Oleh: khmunaharmuchtarhs | 5 Februari 2009

Tiada Hari Tanpa Al Quran

Ustadzah Hj Masnah menyerahkan bingkisan kepada anak yatim pada acara peringatan 10 Muharram 1430 H

Ustadzah Hj Masnah menyerahkan bingkisan kepada anak yatim pada acara peringatan 10 Muharram 1430 H

Raudhatul Muta’allimin pada awalnya hanya sebuah pengajian kecil-kecilan khusus keluarga.

ADZAN Maghrib berkumandang, anak-anak dan ibu-ibu segera menyantap hidangan yang tersedia. Mereka tengah berbuka puasa bersama, seusai menjalani puasa Assyura 10 Muharram. Begitu usai, mereka bergegas mengambil wudhu dan sholat berjamaah. “Biasanya setiap tanggal 10 Muharram selalu melaksanakan puasa sunnah,” ujar Ustadzah Hj Masnah, Pimpinan Lembaga Pendidikan Yatim Piatu dan Majelis Taklim Raudhatul Muta’allimin, Jakarta.

Tak sekadar buka puasa bersama, sehari penuh dari pagi sampai malam Raudhatul Muta’allimin tengah mengadakan kegiatan sosial, antara lain khitanan massal, santunan anak yatim dan janda, dan tabligh akbar. Meski dilaksanakan secara sederhana namun memiliki arti sendiri bagi mereka yang hadir. Apalagi kehadiran sejumlah mubaligh dari Majelis Dzikir SBY ‘Nurussalam’ menjadikan acara semakin khusyu.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadzah Hj Masnah berpesan kepada para hadirin agar bisa bersyukur sekalipun anak yatim piatu. Sebab Nabi Muhammad SAW juga pernah menjadi anak yatim piatu. “Malam ini masih ada yang memberikan santunan. Meski jumlahnya relatif kecil, namun diharapkan bisa meringankan beban mereka,” katanya.

Menurutnya, pemberian santunan ini dalam rangka menyambut 10 Muharram sudah berlangsung beberapa tahun. Diharapkan pada masa mendatang bisa lebih baik lagi. Sebab, pemberian santunan kepada yatim piatu dan para janda merupakan langkah positif. “Alhamdulillah kami memiliki sejumlah donatur yang secara rutin menyantuni anak-anak yatim, janda-janda dan fakir miskin,” tutur alumni pondok pesantren Darul Rahman, Jakarta ini.

Ustadzah Hj Masnah memaparkan, Raudhatul Muta’allimin pada awalnya hanya sebuah pengajian kecil-kecilan khusus keluarga. Rupanya para tetangga berminat untuk mengikutinya, sehingga berkembang dengan murid sekitar 200 orang. Melihat besarnya antusias masyarakat, akhirnya ia mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat untuk mendirikan majelis taklim. “Peletakkan batu pertamanya dilakukan oleh KH Zainuddin MZ pada 30 Agustus 1990,” jelasnya.

Pada awalnya lembaga ini dibuka hanya pada malam hari dengan murid yang terdiri balita, SD sampai SMA. Siangnya, ia mengajar di TK Cut Meutia, Jakarta Pusat kemudian pindah ke TK Darunnaim, Jakarta Barat. Tapi, kini dia berkonsentrasi secara penuh di lembaga yang didirikannya karena murid-muridnya semakin bertambah. Maka pada siang hari digunakan untuk Taman Pendidikan Al Quran, dan malam harinya untuk pengajian agama.

Sedangkan program yang dilaksanakan antara lain majelis taklim kaum ibu, pendidikan usia dini, pengajian kaum remaja, taman pendidikan Al Quran. Sebagaimana prinsipnya bahwa tiada hari tanpa baca Al Quran, ia menerapkannya kepada murid-muridnya. Setiap datang bada Maghrib, mereka diwajibkan membaca Al Quran, dilanjutkan dengan pelajaran kitab kuning, tajwid, doa-doa, dan fiqh. “Sebagian besar yang mengikuti pengajian adalah anak-anak yatim, janda-janda dan fakir miskin,” tuturnya. Ia berencana akan mendirikan panti asuhan dan pesantren bagi anak-anak yatim.

Salah satu tujuan Raudhatul Muta’allimin, adalah membangun imtak (iman dan takwa) bagi anak-anak didik. Minimnya alokasi waktu untuk pelajarann agama Islam di sekolah menjadikan lembaga ini mempunyai andil yang sangat besar untuk menanamkan nilai-nilai agama pada generasi muda. “Pendidikan ilmu agama merupakan suatu tuntutan dan kebutuhan yang harus ditanamkan sedini mungkin. Salah satunya mengajarkan mereka membaca Al Quran,” imbuhnya.

Ia berharap dengan mengajarkan mereka membaca Al Quran, dapat terhindar dari hal-hal negatif yang dapat merusak moral dan akhlak. “Dengan mengajarkan mereka cara membaca Al Quran yang baik dan benar, Insya Allah mereka bisa memahami arti dan kandungan Al Quran. Sebab Al Quran merupakan kita suci umat Islam yang harus dijaga selamanya agar bisa mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. (*)

Oleh: khmunaharmuchtarhs | 30 Januari 2009

Racun Kehidupan dan Penawarnya

kh. munahar muchtar hsSebagian para ulama bersepakat, memberikan satu gambaran bahwa ada lima racun kehidupan dan ada lima penawarnya di dunia ini untuk manusia. Pertama, di dunia ini keseluruhannya adalah racun, sementara penawarnya adalah zuhud. Kedua, seluruh harta yang dimiliki manusia adalah racun, sementara penawarnya adalah zakat. Ketiga, perkataan seluruhnya adalah racun dan penawarnya adalah dzikrullah. keempat, umur semua manusia adalah racun, dan penawarnya adalah ketaatan kepada Allah. Pada akhirnya yang kelima, semua bulan yang kita lalui adalah racun dan penawarnya adalah bulan ramadhan.

Inilah gambaran kehidupan manusia, ada lima racun dan lima penawar. Lima racun pada hakekatnya untuk kehidupan kita di dunia dan penawarnya untuk menuju kebahagiaan akhirat. Sebab apa? Karena sesungguhnya dalam kehidupan ini kita tahu setelah di dunia kita akan masih ke alam selanjutnya. Lima fase yang akan dihadapi oleh manusia. Mulai alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzah, dan puncak dari segala alam adalah alam akhirat.

Kenapa di dunia ini digambarkan sebagai racun. Karena di dunia ini berbagai macam jenis kehidupan itu ada. Disini pula ada kebaikan, ada keburukan, ada ibadah, ada maksiat, dan semuanya serba ada. Maka bagi setiap manusia yang dalam hidupnya cuma sekedar mengejar popularitas di dunia, maka seolah-olah dia meminum racun. Tapi jikalau dia zuhud dari apa yang dia miliki, apa yang dia dapat di dunia maka sesungguhnya zuhud itulah sebagai penawarnya.

Dan inilah yang akan didapati sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, bahwa silahkan kejar akhirat tapi jangan lupakan dunia. Sebaliknya kejar dunia tapi jangan lupa akhirat. Inilah yang dinamakan keseimbangan dalam kehidupan. Zuhud ini merupakan penawar jangan sampai di dunia ini menjadi racun kehidupan. Karena jika zuhud itu sudah dimiliki oleh seseorang, hidup di dunia akan membawa kenikmatan pada dirinya.

Lalu yang kedua, seluruh harta yang kita miliki adalah racun. Zakat, infak dan sedekah inilah penawarnya dari segala apa yang kita miliki. Ketika harta kita miliki lalu dikeluarkan untuk zakat, infak dan sedekah, maka harta itu akan menjadi bersih. Oleh karena itu manakala seseorang sudah mempuinyai sifat zuhud maka harta dunia tidak akan menjadikan dirinya angkuh dan sombong.

Jika kita membaca sejarah bagaimana Malik bin Dinar, popularitas dunia didapatkan dan harta dia miliki. Namun ketika lupa segala-galanya, Allah masih memberikan hidayah berupa teguran. Ketika suatu hari ia ditegur agar kembali mengingat kepada Allah, ia sempat bermimpi bagaimana dahsyatnya api neraka dan ia sempat dilemparkan ke dalam api neraka. Maka ketika ia bangun di sebagian badannya hangus terbakar. Lalu sadarlah ia dengan segala perbuatannya, maka ditinggalkan harta dunia dan ia kembali kepada Allah dengan kezuhudannya.

Lalu yang ketiga, perkataan kita adalah racun. Maksudnya semua yang kita bicarakan adalah racun dan sebagai penawarnya adalah dzikrullah. Mengingat Allah dengan istighfar, meminta ampun dan sebagainya. Maka kita diperintahkan untuk selalu ingat kepada Allah dalam setiap perkataan dan ucapan. Karena lidah tidak bertulang, kadang-kadang apa yang kita ucapkan dapat menyakiti orang lain. Maka dengan dzikrullah di setiap waktu akan menjadi penawar dari setiap ucapan kita.

Lalu yang keempat umur kita adalah racun dan ketaatan kepada Allah adalah penawarnya. Allah berikan fasilitas kepada kita, dengan umur yang panjang Allah berikan tenggang waktu agar kita memperbanyak ibadah. Dan ini akan menjadi racun kalau kita tidak taat kepada Allah. Dan kelima, bulan yang kita lalui hakekatnya merupakan racun. Maka ketika datang bulan Ramadhan itulah yang membersihkan hari-hari yang telah kita lewati.

Ketika kita sudah sampai pada titik akhir kehidupan, kita lewati dengan berbagai macam perbuatan, apakah itu baik atau buruk tergantung pada diri kita. Lalu kita masuk pada fase selanjutnya ketika malaikat Izrail datang menyabut nyawa kita akan masuk pada fase yang ketiga dalam kehidupan ini. Digambarkan para ulama ketika ajal datang bagaimana dahsyatnya sakit yang diderita.

Bagi orang-orang yang beriman ketika azal datang, Allah kirimkan malaikat dari langit dengan berpakaian serba putih, kemudian ia duduk disamping hamba yang akan diambil ruhnya. Maka orang yang beriman diambil ruhnya dengan penuh kasih sayang. Tatkala ruh orang-orang beriman keluar dari dalam tubuhnya, maka malaikat memasukkan ruhnya ke dalam kain kafan yang dibawa dari langit atas perintah Allah. Lalu dibawalah ruh itu kelangit untuk menghadap Allah.

Setiap melewati para malaikat untuk menghadap Allah, mereka bertanya-tanya ruh siapakah yang lewat begitu wangi. Ketika sampai menghadap Allah, lalu ditanya siapa tuhanmu, siapa nabimu dan lain sebagainya. Si fulan yang beriman ini menjawab dengan jawaban yang benar. Maka Allah tempatkan orang beriman ini ke satu tempat yang mulia di sisi Allah.

Sebaliknya, bagi orang-orang kafir dan orang-orang yang selalu berbuat maksiat, maka Allah mengutus malaikat berpakaian serba hitam dan mukanya pun amat menakutkan. Malaikatpun mencabut ruhnya dengan keras, tidak ada sama sekali rasa kasih sayang. Malaikat itu membawa besi yang kuat untuk menyimpulkan ruh orang yang ingkar kepada Allah. Lalu dimasukkan ke dalam kain kafan yang hitam. Malaikat-malaikat yang dilewati ruh itu bertanya, bau apa ini? Lalu tatkala ketika ditanya Allah, ruh itu tidak bisa menjawabnya, maka ia tempat ke dalam api neraka yang paling bawah.

Diceritakan, ketika Abu Zakaria mengalami sakaratul maut, semua kerabat dan para sahabatnyan datang menjenguknya. Semua mendekatkan mulut ke telinga mereka menalqin. Laa ilaha illallah, Muhammad rasuulullah. Namun, Abu Zakaria malah memalingkan wajahnya, bahkan Abu Zakaria berteriak,” Aku tidak akan mengatakannya,”. Kemudian ia pingsan beberapa saat.
Setelah sadar dan membuka matanya, Abu Zakaria bertanya apakah engkau tadi berkata kepadaku? “Ya, kami tadi menalqinmu dengan kalimat syahadat, agar mati khusnul khotimah. Tapi engkau menolak mengatakannya.

Lalu Abu Zakaria bercerita,” Ketika engkau menalqinku tadi, aku didatangi Iblis dengan mambawa segelas air es. Dia duduk di sebelah kananku sambil menggoyang gelasnya ia berkata,”Apakah engkau membutuhkan air”, aku menjawab ya. Katakanlah bahwa Isa adalah anak Allah. Aku memalingkan wajahku.

Dia datang dari kakiku dan berkata seperti yang pertama, aku memalingkan wajahklu darinya. Ketiga kali ia berkata katakanlah tiada Tuhan, Aku menjawab, aku tidak akan mengatakannya. Iblis kemudian marah dan membanting gelas di atas tanah, kemudian pergi darinya. Aku memalingkan wajah darimu tapi dari godaan Iblis, sekarang aku akan mengatakannya. Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyahadu anna Muhammad rasulullah. Kemudian menghembuskan nafas terakhir.

Perjalanan kehidupan kita diawali dari hati yang dalam. Kalau baik yang kita lakukan maka kebaikan yang akan kita dapatkan. Sebaliknya bila kejelekan yang kita lakukan maka kejelekan juga yang kita dapatkan. Sebab itu, Ulama besar Habib Umar memberikan nasehat kepada murid-muridnya, “Jika kalian ingin berhasil berdakwah, yang pertama bagaimana berdakwah dengan penuh semangat. Yang kedua, sesuai apa yang kamu dakwahkan, dan yang ketiga jika kamu mengharap ridho Allah, walaupun orang lain tidak ridho, maka akan diberikan jalan kebajikan.”

Ketika manusia mengharap ridho Allah dalam kehidupan, maka dunia akan didapatkan dan akhirat akan dia capai. Kehidupannya akan selalu dijaga oleh Allah walaupun hidup selalu digoda. Oleh karena itu, hidup yang sempit ini, ujian dan cobaan pasti datang kepada kita. Jika kita kuat dalam menghadapi godaan dan cobaan maka kehidupan ini terasa nikmat. Tapi jika kita tidak sabar dalam menghadapi ujian maka dunia ini adalah racun. (*)

Oleh: khmunaharmuchtarhs | 20 Januari 2009

Hijrah dan Momentum Kebangkitan Umat

kh. achya alanshory
Salah satu pelajaran kepada kita bahwa yang kecil jangan dianggap kecil. Satu saat menjadi kekuatan besar dalam kehidupan manusia. Jadikan pelajaran karena Nabi SAW diselamatkan oleh Allah SWT dengan laba-laba.
KETIKA ada orang bertanya apakah kita diperbolehkan menyambut Tahun Baru 1 Januari dengan ucapan Selamat Tahun Baru, maka jawabannya adalah diperbolehkan. Alasannya tahun miladiyah masehiyah diambil dari lahirnya Nabi Isa as. Beliau dilahirkan sebagai seorang nabi dan rasul. Dan yang memiliki julukan Al Masih hanya Nabi Isa seperti disebutkan oleh Allah dalam Al Quran.
Julukan tersebut dijelaskan oleh Syeh Nawawi Al Bantani dalam dua makna. Pertama, Al Masih mengandung arti Nabi Isa adalah pengelana. Yang kedua beliau jika mengusap orang sakit akan disembuhkan oleh Allah. Sebab tangannya penuh mukjizat, seperti halnya nabi-nabi lain yang diberikan mukjizat. Satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Isa antara lain, yang buta menjadi bisa melihat, yang terkena penyakit kusta menjadi sembuh, bahkan yang mati bisa hidup.
Sedangkan awal Tahun Hijriyah yang tahun ini lebih dahulu sebelum Januari diambil dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW. Diawali pada zaman Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab ketika memberikan surat kepada gubernur Amru bin Ash tanpa menggunakan tanggal dan tahun. Kemudian Amru bin Ash membalasnya dengan diberi catatan bahwa surat tanpa tanggal dan tahun itu sudah diterima.
Dari sini timbullah pikiran untuk menentukan awal tahun. Maka para sahabat bermusyawarah untuk menentukannya. Ada yang berpendapat dimulai dari Maulid Nabi, ada juga yang berpendapat ketika Nabi diutus menjadi Rasul. Namun yang terakhir pendapat Sayyidina Ali ra yang mengusulkan sebaiknya mulai dari hijrah Rasulullah diterima karena merupakan momentum kebangkitan umat.
Lantas apa saja yang kita lakukan dalam menyambut tahun baru ini? Yang pertama, mensyukuri nikmat. Alhamdulillah, kendati terlampau cepat perputaran waktu, kita masih diberikan hayat dikandung badan, masih dapat menghirup udara segar tahun baru hijriyah. Dan, bila kita bicara nikmat tidak ada seorang pun yang mampu menghitungnya. Bahkan kadang-kadang dibalik yang negatif masih terpendam nikmat. Contohnya, gatal itu penyakit, tetapi kenapa bila digaruk terasa nikmat.
Dalam Al Quran surat An-Nahl ayat 18 Allah menyatakan, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Karena terlampau banyak nikmat janganlah hendak menghitungnya karena yang terpenting sejauh mana kita menyukuri nikmat itu. Salah satunya panjang umur kita yang merupakan fasilitas yang patut disyukuri. Manusia dengan umurnya akan mampu menambah kebaikan, dan dengan umurnya pula akan mentaubati berbagai macam kesalahan.
Yang kedua, melakukan muasabah atau intropeksi diri. Gerangan apa yang kita lakukan pada tahun lalu? Bila hal-hal yang baik minimal kita pertahankan, maksimal kita tingkatkan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia termasuk orang-orang yang beruntung.” Sebaliknya, jika kita melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang bisa menodai nama pribadi, nama keluarga, nama bangsa untuk dijadikan peringatan agar jangan sampai terulang kembali. Untuk itu, Nabi mengingatkan bahwa, seorang mukmin jangan sampai di pagut ular satu lubang dua kali. Artinya yang lalu biarlah berlalu, dan yang akan datang kita perbaiki semuanya.
Sedangkan yang ketiga, kita jadikan hijriyah ini momentum kebangkitan umat. Sebab, dengan hijrah, ajaran Islam menggema, menggelora kepada seluruh dunia. Berkat hijrah sampailah Islam di tengah-tengah masyarakat kita. Sebab jika tidak ada hijrah, tidak ada furqon. Di sinilah pentingnya hijrah sebagai momentum kebangkitan umat yang tidak boleh disia-siakan.
Lalu kenapa Nabi hijrah? Ada Nabi yang hijrah mendapat ujian besar, yakni Nabi Yunus yang hijrah meninggalkan kaumnya tanpa perintah Allah. Kemudian naik ke kapal yang sudah penuh dengan penumpang dan barang. Sampai di tengah lautan, kapal tersebut mulai memperlihatkan tanda-tanda akan tenggelam. Saat itu hanya ada dua pilihan, mereka tetap bersama-sama di atas kapal tapi tenggelam semua, atau satu per satu dilemparkan ke laut sekedar meringankan muatan kapal dan menyelamatkan yang lain.
Akhirnya diputuskan untuk dilakukan undian untuk memilih siapa yang akan di lempar ke laut. Nabi Yunus yang namanya keluar dilemparkan ke laut. Dan kemudian ditelan bulat-bulat oleh seekor ikan dari dalam laut. Di dalam kegelapan perut ikan, Nabi Yunus berdoa, ”Tidak ada Ilah melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim.” (Al Anbiya:87). Kemudian Allah SWT memerintahkan ikan tersebut melemparkannya ke tanah yang tandus. Setelah kuat kembali, Nabi Yunus as diperintahkan untuk kembali ke tengah-tengah kaumnnya yang telah bertaubat.
Sedangkan hijrahnya Rasulullah SAW adalah perintah Allah. Sehingga ketika di Madinah, Allah mengingatkan dalam surat Al Anfal ayat 30, “Ingatlah Muhammad ketika orang-orang kafir akan menangkap kamu kemudian mereka akan mengusirmu, dan mereka akan membunuhmu, mereka membuat makar rencana-rencana yang buruk, Allah juga akan membuat rencana sendiri. Dan sebaik-baiknya rencana adalah rencananya Allah.”
Ini diingatkan, Nabi berhijrah akibat tiga faktor. Makkah tidak dijadikan tempat strategi perjuangan dakwah karena tidak memungkinkan. Orang kafir ganas dan mereka tidak menerima seruan Rasul sehingga mereka merencanakan pertama, penjarakan Muhammad, kedua mengusir dan terakhir dibunuh. Dan yang ketiga inilah disepakati mereka di dalam nadwah (tempat musyawarah mereka).
Abu Jahal mengirimkan 300 pembunuh bayaran untuk membunuh Nabi. Tapi Allah melindunginya, sehingga Rasul lolos dari pembunuhan. Ini berkat adanya Allah yang selalu mencintai Nabi dan dikasih tahu saat-saat mencengkam di malam Jumat waktu itu. Lalu siapakah yang berani menentang maut? Pertama Ali bin Abi Thalib, siap menggantikan Nabi di tempat tidur. Yang kedua Abu Bakar Shiddiq yang setia melindungi hidup atau mati.
Alhamdulillah beliau bersembunyi di gua Tsur selama tiga hari tiga malam dan Allah melindunginya dengan rumah laba-laba yang halus sehingga membuyarkan keyakinan mereka bahwa nabi masuk ke gua. Ini salah satu pelajaran kepada kita bahwa yang kecil jangan dianggap kecil. Satu saat menjadi kekuatan besar dalam kehidupan manusia. Jadikan pelajaran karena nabi diselamatkan oleh Allah dengan laba-laba.
Selanjutnya, setelah Nabi berada di Madinah langsung membangun negara dengan petunjuk dari Allah SWT yang perlu diteladani. Pertama memantapkan akidah sehingga menimbulkan semangat mempertahankan agama akan timbul. Setelah itu adalah pendidikan terhadap masyarakat. Kedua ini bila dimantapkan dengan semangat hijrah, Insya Allah terangkat derajat bangsa kita.
Akidah hubungannya dengan iman dan pendidikan hubungannnya dengan ilmu pengetahuan. Allah menjamin dalam Al Quran surat Al Mujadalah, “Maka Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang berpengetahuan dengan beberapa derajat.”
Dengan semangat momentum hijrah kita bangkitkan semangat umat ini dan kita tingkatkan pengetahuan mereka. Insya Allah kita tidak akan mendapatkan kehinaan bahkan terangkat. Selanjutnya dibangunnya masyarakat dengan akhlakul karimah, karena sangat menentukan jatuh bangunnya bangsa tergantung akhlak. (KH M Achya Al Anshory,Pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Tholibin, Jakarta)

Oleh: khmunaharmuchtarhs | 12 Desember 2008

Penyakit Hati

kh.munahar muchtar hsBerdzikir kepada Allah SWT itulah obat yang sangat mujarab untuk meluruskan hati.

SEBAGAI hamba Allah yang baik, tentu kita menyadari betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada kita di segala kehidupan. Betapa setiap cita-cita yang kita inginkan, setiap niat yang ada di hati sanubari, setiap keinginan yang tertanam, dan setiap keberhasilan yang kita capai mustahil tanpa pertolongan atau inayah dari Allah Rabbul Izzati. Artinya apa? Bahwa apa pun yang kita lakukan, langkah apa pun yang kita kerjakan, keberhasilan yang kita capai ini semata-mata sayangnya Allah kepada kita dan karunia Allah yang diberikan kepada kita.
Untuk itulah, kita harus senantiasa bertafakur, senantiasa mensyukuri nikmat Allah dengan meningkatkan ketakwaan kita melalui menjalankan apa yang Allah perintahkan, dan berupaya menjauhkan apa yang dilarang-Nya. Tentu kita berharap dengan berdoa, mudah-mudahan segala langkah perbuatan kita, hidup di alam yang fana ini senantiasa mendapatkan ridho dari Allah SWT. Shalawat dan salam kita haturkan keharibaan junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, juga kita selalu berharap dan berdoa semoga kelak di yaumil kiamah syafaat dari beliau akan terlimpah kepada kita.
Di suatu sore Rasul berkumpul dengan para sahabat di dalam masjid sambil menunggu datangnya waktu Ashar. Ketika sudah berkumpul para sahabat, Rasulullah mencari seseorang di sekitarnya. Lalu Rasul berkata kepada para sahabat, ”Sebentar lagi ahli surga akan masuk ke dalam masjid.” Para sahabat merasa terkejut, kenapa? Karena seluruh sahabat yang dekat dan dicintai Nabi sudah berkumpul di dalam masjid. Siapa lagi yang beliau tunggu itu.
Tidak lama kemudian masuklah seseorang yang tidak cukup dikenal. Dia orang biasa, tidak selalu dikenal di kalangan para sabahat karena berasal dari kampung. Para sahabat masih berpikir mungkin ada yang lain. Ternyata ketika tiba datangnya waktu Ashar itulah orang yang terakhir tadi. Begitu pula dengan esok harinya, Rasulullah berkata demikian,” Sebentar lagi ahli surga akan masuk ke dalam masjid.” Sahabat masih mengira bukan orang yang kemarin. Ternyata yang datang terakhir ke masjid, orang yang kemarin lagi. Tiga hari berturut-turut itulah yang terjadi, hingga pada akhirnya para sahabat yakin dialah orangnya yang disebut ahli surga.
Di antara para sahabat, Abdullah bin Umar agak sedikit penasaran. Siapakah gerangan orang itu? Ibadah apa yang dilakukan sehingga Rasul mengatakan dia adalah ahli surga? Maka setelah usai sholat Ashar, Abdullah bin Umar mengikuti orang ini tinggal untuk melihat bagaimana ibadahnya. Hamba Allah yang dinyatakan sebagai ahli surga ini sudah tahu kalau dia diikuti, ia berjalan meliwati gang-gang kecil sampai akhirnya tiba di gubuk yang reyot. Menolehlah ia ke sahabat Abdullah bin Umar dan bertanya,” Ada apa yang menyebabkan engkau mengikuti dari masjid sampai ke rumahku?”

Abdullah bin Umar berkata, ”Tuan saya ingin bermalam di rumah tuan.” Lalu ia menjawab, ”Bagaimana kamu bisa tidur di rumahku, sedangkan rumahku kecil dan untuk keluargaku saja sudah susah. Jika kamu mau silahkah, tapi beginilah tempatku.” Setelah mendapat izin, Abdullah bin Umar memerhatikan apa yang dilakukan hamba Allah ini, kapan ia bangun tidur untuk melaksanakan shalat malam. Tapi sampai datangnya waktu subuh, ternyata orang itu tidak bangun malam. Ketika datang waktu subuh barulah ia bangun lalu ke masjid ikut sholat berjamaah dengan Rasul setelah itu pulang.
Kemudian Abdullah bin Umar berpikir, ibadahnya tidak lebih dari yang lainnya. Tapi mungkin ada amalan-amalan lainnya. Pagi hari orang itu bekerja menempuh perjalanan jauh. Ternyata di suatu tempat orang itu hanyalah pembuat batu.
Begitu menjelang waktu Dhuhur, begitu pula ia lakukan menuju masjid untuk sholat berjamaah dengan Rasul. Abdullah bin Umar yang penasaran bertanya, ”Saya ini bingung, beberapa waktu yang lalu Rasulullah berkata sampai tiga hari berturut-turut bahwa akan ada orang ahli surga. Tapi ibadah kamu sesuai dengan apa yang kami lakukan. Kewajiban-kewajiban yang kami lakukan, tidak jauh berbeda. Tapi mungkin kami dan para sahabat lainnya lebih dalam masalah ibadah.”
Hamba Allah ini berkata, ”Mungkin ibadahku kalah dari kalian. Tapi perlu kamu tahu, kemungkinan yang menyebabkan Rasulullah berkata seperti itu, karena suatu hal yang aku jaga dalam hidup, pertama lidahku tidak pernah aku gunakan untuk menyakiti orang lain. Artinya, aku tidak pernah berbuat gibah, aku tidak pernah memfitnah, aku tidak pernah berdusta, aku tidak pernah kotori lidah ini dengan perkataan buruk. Dan yang kedua wahai Abdullah bin Umar, hatiku tidak pernah iri dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Bahkan aku selalu bersyukur jika Allah memberikan karunia yang besar terhadap orang-orang yang disebelah aku.”
Ini suatu ikhtibar betapa antara hati dengan lidah tidak bisa dipisahkan. Maka jika kita bisa menjaga hati dengan baik, menjaga lidah dengan baik. Dan, percaya jika hati yang bersih dari rasa takabur, ria, syirik, iri, dengki serta penyakit hati lainnya, maka lidah secara otomatis akan menjadi baik. Itulah sebabnya Rasul pernah memberikan gambaran iman seseorang tidak akan surut sebelum hatinya surut. Hati tidak akan surut manakala lisannya lurus.
Betapa peranan hati menjadi sangat penting dalam kehidupan. Sebab itulah untuk menghilangkan berbagai penyakit di dalam hati, agar supaya lidah kita menjadi lurus, maka obat yang paling tepat tidak lain adalah selalu menyebut nama Allah. Berdzikir kepada Allah itulah obat yang sangat mujarab untuk meluruskan hati, meluruskan lidah kita di dalam hidup ini. Kenapa? Kita selalu berpikir di dalam hidup selalu berdoa pada Allah tapi belum dikabulkan. Mungkin, hati kita masih terdapat sifat-sifat yang jelek, masih ada dosa dalam diri kita, masih ada rasa takabur dalam hati kita. Itulah yang menyebabkan doa kita terhalang dengan penyakit-penyakit yang ada dalam hati.
Di zaman Nabi Musa pernah terjadi kemarau panjang. Begitu panjangnya membuat umat Nabi Musa datang untuk meminta kepada Allah agar musibah ini cepat-cepat diangkat oleh Allah, paling tidak Allah turunkan hujan. Lalu Nabi Musa bermunajat kepada Allah, dan mendapat petunjuk untuk mengumpulkan umat dalam suatu tempat untuk berdoa. Tapi apa yang terjadi, tatkala Nabi Musa menyampaikan kepada umatnya untuk bertaubat dan berserah diri sebelum bermunajat kepada Allah untuk mengakui segala dosa dan kesalahannya ternyata hujan belum turun juga. Ada apa gerangan?
Seorang rasul yang menjadi kekasih Allah, dan satu-satunya Nabi bisa berbicara langsung kepada Allah tatkala doanya belum dikabulkan langsung bertanya kepada Allah. Ternyata ada salah satu umatnya yang hatinya masih kotor. Jika umatnya ingin dikabulkan doanya agar satu orang itu keluar dari kelompok. Maka Nabi Musa langsung berdiri dan memberi tahu kepada umatnya bahwa Allah tidak mengabulkan doa mereka karena di antara umatnya belum ada yang bertaubat kepada Allah, masih ada yang hatinya kotor. ”Maka jika di antara kalian yang masih belum bertaubat kepada Allah dipersilahkan keluar dari kelompok ini agar doa kita dikabulkan oleh Allah,” kata Nabi Musa AS.
Terdiam seluruh umat Nabi Musa, namun ada satu orang yang merasa belum bertaubat kepada Allah, hatinya kotor karena telah bebuat dosa. Karena kuatir jika keluar dari kelompoknya semua orang akan tahu, ia menunduk langsung bertobat kepada Allah tanpa diketahui sekelilingnya. Ketika taubatnya langsung diijabah oleh Allah, tanpa ada tanda-tanda hujan pun langsung turun. Nabi Musa pun terheran karena belum keluar dari kelompoknya tapi kenapa hujan turun.
Maka Allah berkata kepada Nabi Musa, ”Wahai Musa, umatmu, hamba-Ku yang hatinya kotor tadi telah bertaubat dengan taubatan nasuha. Maka Kuterima taubatnya, dan hujan ini sebagai diterima taubatnya.” Kisah ini menjadi gambaran jika disaat ini banyak ujian dan cobaan yang menimpa negara kita, mungkin karena hati-hati kita yang kotor, ada rasa iri, syirik dan dengki diantara kita, mungkin tidak adanya kedamaian diantara kita. Dan yakinlah dengan hati yang bersih, doa kita akan dikabulkan oleh Allah. Subhanallah!

Oleh: khmunaharmuchtarhs | 7 Desember 2008

Strategi Dakwah

kh.munahar muchtar hs“Kamu adalah sebaik-baiknya ummat yang ditampilkan untuk umat manusia.” (QS 3:110).

Salah satu keutamaan umat di akhir zaman adalah Allah jadikan khoiru ummah (umat yang terbaik). Artinya salah satu kewajiban umat akhir zaman adalah menyeru pada kebajikan dan mencegah pada kemungkaran,”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 3:104)

Lalu apa yang kita lakukan, dan bagaimana sistim dalam menyampaikan dakwah? Rasul pernah memberikan suatu gambaran, bicaralah sesuai dengan otak manusia. Artinya bicaralah dengan mereka sesuai dengan kemampuan mereka. Ada beberapa hal dalam berdakwah yang digambarkan Rasulullah, pertama dengan hikmah dan bijaksana. Jika kita berbicara di depan pengusaha kita berbicara ekonomi, bila bicara masalah pertanian kita bicara kepada petani, berbicara masalah ilmu pengetahuan dengan ilmuan. Artinya kita berbicara sesuai dengan audensi yang berada di depan kita.

Kedua, berbicara dengan baik. dalam berdakwah hendaklah berbicara dengan baik yang dapat diterima baik olel akal dan jiwa manusia. Kita harus mempunyai strategi yang khusus, kata-kata yang baik, kalimat-kalimat yang baik, jangan menjelek-jelekkan orang lain, jangan menjatuhkan orang lain, jangan menjadi provokator dan sebagainya. Seorang dai harus menjadi contoh teladan yang baik bagi obyek dakwahnya, dan menjadi teladan bagi dirinya. Karena jika tidak demikian, maka dakwahnya akan menjadi bencana baginya, dan tidak mendapatkan orang yang mau mendengarnya.

Rasulullah bisa berhasil dalam berdakwah karena tutur kata yang baik. Karena dalam kehidupan sehari-hari, tatkala orang dipukul sakitnya hanya sementara, tetapi ketika lisan yang memukul seseorang ini mungkin selama hidupnya akan selalu ingat. Oleh karenanya ketika kalimat baik yang disampaikan orang pun akan selalu mengingatnya. Sebab itu, tutur kata yang baik adalah strategi dalam berdakwah.

Ketiga, akhlak yang baik. Dalam berdakwah tidak selalu lurus, pasti akan mendapat rintangan. Setiap berdakwah jika memakai akhlak yang baik, maka akhlak yang baik ini akan menjadi tolak ukur dalam dakwah kita. Sebagaimana dalam sejarah, Rasul dalam berdakwah banyak orang-orang yang menentangnya, bahkan ada yang ingin mengusir dan membunuhnya. Namun karena akhlak Rasul yang begitu mulia, yang ditunjukkan kepada umatnya, bahkan kepada orang kafir qurais sekalipun, akhirnya mereka yang pada awalnya memusuhinya menjadi sahabat Rasul.

Sebagaimana Umar bin Khattab yang pada awalnya membenci Rasul, ketika melihat akhlak Rasul hatinya menjadi tergugah dan kembali kepada kebenaran. Bila hati kita bersih dalam menyampaikan dakwah, maka nur cahaya Allah akan diturunkan kepada kita, para dai, para mubaligh. Inilah strategi yang harus dipegang dengan baik. Bagaimana bertutur kata dengan lemah lembut, hati yang baik, akhlakul karimah yang baik dalam menjalankan dakwah ini.

Menyampaikan kebenaran itu memang mudah karena resikonya kecil, tetapi jika mencegah kemungkaran lebih menyulitkan. Karena ketika ada orang yang melakukan kemungkaran, lalu kita mencegahnya akan bertolak belakanga dengan hati mereka. Disinilah tantangan seorang dai dari mereka yang biasa melakukan kemaksiatan, perbuatan dosa dan kemungkaran itu.

Kalau tiga strategi ini kita laksanakan, Insya Allah bagaimanapun kerasnya hati seseorang, akan menjadi baik. Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa sandaran vertikal bagi seorang mubaligh kepada Allah harus kuat. Sebagaimana kita ketahui, bahwa yang membolak balikan hati manusia adalah Allah. Kita berikhtiar dan berupaya, baru Allah yang akan membalikkannya. Jadi, bila sandaran vertikal kita kuat, dakwah kita sesuai dengan yang dianjurkan oleh Allah serta yang disampaikan oleh Rasullah, Insya Allah strategi dakwah ini akan berhasil.

Tantangan dakwah

Bagi para dai, tantangan dakwah di Indonesia berasal dari dari luar maupun dari dalam. Dari luar artinya, masuknya budaya-budaya barat bukan sesuatu yang harus ditutupi karena dengan mudahnya merasuki anak-anak kita. Lalu bagaimana agar anak-anak kita tidak terlena dengan masuknya budaya-budaya barat hingga pada akhirnya menghancurkan moral anak-anak kita?

Yang harus kita lakukan, antara lain kita harus banyak menyampaikan bahwa budaya-budaya yang datang dari luar tidak semuanya baik, dan ini harus kita sampaikan kepada anak-anak kita. Ketika budaya ini datangnya dari orang kafir, 90 persen akan menghancurkan moral mereka, baik itu budaya kita lihat di televisi, internet, media dan sebagainya. Dan perlu ditanamkan bahwa sesungguhnya budaya barat itu sebagian besar ingin merusak moral anak-anak kita. Disinilah kita harus menanamkan iman dan akhlak untuk membentenginya.

Sementara tantangan dari dalam negeri pun tidak kalah dahsyatnya. Budaya-budaya dari dalam negeri yang sekarang ini lebih condong mengikuti budaya-budaya barat yang dapat menghancurkan moral ketimbang budaya-budaya yang Islami. Untuk itu, ketika budaya-budaya itu masuk ke rumah-rumah kita, paling tidak bukan sekadar kewajiban seorang dai saja yang menyeleksinya, tetapi orang-orang muslim pun dapat menyeleksi apa yang boleh dilihat mereka. Bagaimana pergaulannya, apa yang dilakukan anak-anak kita menjadi kewajiban kita bersama.

Dai memberikan siraman rohani, sementara pupuknya itu keluar dari orang tua. Ketika pohon hanya diberikan pupuk tetapi tidak disiram, maka pohon itu tidak akan tumbuh dengan bagus. Sebaliknya jika pohon itu disiram tetapi tidak diberi pupuk, dia mungkin akan tumbuh tetapi tidak akan menghasilkan sesuatu yang diinginkan. Bagi seorang dai mempunyai tugas memberikan siraman dengan air-air yang menyejukkan, lalu orang tua ibarat pemilik pupuk menyemaikan pupuk kepada pohon. Dan pohon itu adalah anak-anak kita. Berilah pupuk dengan takaran yang pas, sedikit jangan terlalu banyak. Artinya kita sesuaikan dengan kondisi anak-anak kita.

Boleh saja kita mengikuti keinginan anak-anak kiita, tetapi ada batasan-batasan tertentu. Demikian pula bagi seorang dai dalam menyampaikan dakwah memiliki batasan tersendiri. Inilah tantantang para dari di era globalisasi, dia harus memiliki kesabaran yang tinggi, mempunyai pengetahuan, intelektualisasi, dan harus bisa membaca perkembangan zaman. Disamping itu harus bisa menyelami jiwa-jiwa manusia, sehingga dakwah yang disampaikan bisa merasuki jiwa yang terdalam.

Seorang dai harus siap segala-galanya, harus pandai mendalami apa yang terjadi di sekitarnya tidak hanya pandai menelaah buku. Kalau perlu kita harus masuk ke dalamnya, sehingga apa yang disampaikan sesuai dengan yang terjadi. Ketika seorang dai memiliki hal-hal semacam itu, maka Insya Allah dalam berdakwah pun akan berjalan dengan baik dan lancar.

Yang terpenting, seorang dai jangan merasa dirinya segala-galanya. Dai harus mempunyai sifat low profile, harus menyelami, harus bisa mendekati, dan jangan sampai ingin dihormati. Sebagaimana Rasulullah mendatangi para sahabatnya, juga mendatangi orang-orang kafir qurais. Beliau sampaikan dakwah ini dengan kesabaran, dengan keilmuan, dengan menyelami apa yang ada didalam sanubarinya. Sehingga dakwah Rasul berhasil dalam waktu singkat.

Jadi, setiap dalam menghadapi tantangan dakwah, seorang dai harus memiliki sifat-sifat tersebut. Bagimanapun lamanya seorang dai menyeru kepada Tauhid, tidak boleh merasa bosan dan lelah. Tidak boleh merubah dan mengganti manhajnya, sehingga Allah pun meridhoinya. Wajib bagi dai untuk tetap konsisten di atas akidah tauhid dan berdakwah kepada tauhid di atas ilmu dan komitmen pada Allah sampai menjelang ajal. (*)

Older Posts »

Kategori